SOSIALISASI PENTINGNYA PENGGUNAAN BAHASA KOMUNIKATIF DALAM PELAYANAN PUBLIK
Abstract
Latar Belakang: Pelayanan publik di era demokrasi menuntut profesionalisme dan aspek interpersonal yang humanis. Namun, di lapangan masih ditemukan diskrepansi berupa pola komunikasi birokratis yang kaku dan penggunaan jargon teknis yang memicu "jarak psikologis" antara pemerintah desa dan warga. Defisit komunikasi ini berdampak pada rendahnya Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan degradasi kepercayaan publik. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan di Desa Ujung Tanah pada 29 Desember 2025 dengan melibatkan 40 partisipan. Metode yang digunakan adalah Pendidikan Masyarakat (Public Education) yang partisipatif, meliputi tahapan identifikasi, intervensi melalui ceramah interaktif dan simulasi (roleplay), evaluasi melalui pre-test dan post-test, serta pendampingan berkelanjutan melalui penyerahan modul panduan. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan eskalasi kompetensi yang signifikan dengan kenaikan rerata skor dari 58,25 menjadi 86,87, serta nilai N-Gain sebesar 48,8% (Kategori Efektif). Peningkatan tertinggi teramati pada indikator manajemen komplain dan empati verbal (67,2%). Hasil observasi simulasi mengonfirmasi transformasi perilaku dari gaya komunikasi defensif dan kaku menjadi lebih responsif, solutif, dan empatik secara verbal maupun non-verbal. Kesimpulan: Sosialisasi bahasa komunikatif efektif dalam mentransformasikan paradigma aparatur desa dari ruling bureaucracy menjadi serving bureaucracy. Penguatan kompetensi komunikasi interpersonal ini menjadi modal sosial penting dalam mereduksi konflik informasi, meningkatkan akuntabilitas, serta mewujudkan pelayanan publik yang prima dan berkelanjutan di Desa Ujung Tanah.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Locus Penelitian dan Abdimas

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


